22 Jul 2016

Menikah! Berpasangan? Tidak Kedua-nya (2) Retrospeksi

Fuuhh... Tiup blog yang sudabedebu. Hari ini tepat tiga tahun tiga bulan setelah gue nulis artikel galau yang judulnya 

Menikah! Berpasangan? Tidak Kedua-nya

Buat kamu yang males baca link tersebut, inti tulisan itu adalah saat dimana gue sedang mikirin ulang pemikiran gue jaman SD kelas 6, pemikiran anak2 kalau intinya nikah itu menyeramkan, karena harus melakukan satu hal itu lah, yang diartikel sebelumnya gue bisa tuliskan secara frontal, tapi untuk kali ini ibarat kata kalau tangan ini lidah, kelu rasanya.

Saat itu gue mikir alasan nikah itu hanya anak, karena pernah ada beberapa orang tanya ttg Nikah dan gue jawab ogah2an seolah mengisyaratkan nikah itu apa ya? Yah, urusan nanti2 lah, masih banyak lagi yang penting untuk dilakuin dan dipikirin. Gue tadinya juga mikir nikah itu akan banyak menyita waktu yang seharusnya bisa gue habiskan untuk melakukan kesenangan gue.... Jalan2 nulis, jalan2 nulis, jalan2 nulis lagi... Pekerjaan yang gak akan pernah selesai. Tenggelam dalam keasikan menulis. Sebab gue terobsesi banget dulu menghabiskan masa tua gue di lereng Pegunungan Tibet sambil menulis-menulis, dan terus menulis lagii.... Yang mungkin aja sampai akhir hayat gue gak akan selesai. Seperti Malinowski barangkali. Mencatat semua yang ia temukan dan pada akhirnya gue bisa menerbitkan manunskrip... Yang tebalnya tentu akan melebihi fieldnote.

Zzzzzttt, males banget ya,  ini gue jadinya berasa kisah Jilbab Traveler 
kemudian merasa hampa banyak jalan-jalan (Kalau Raniya ke luar negeri, ya kalau gue sih keliling Indonesia ya walau belum semua). Gak, kisah yang gue akan ceritakan gak segitu mellownya ya. Ini lebih soal retrospeksi dan hal-hal yang tak selesai (sedikit pinjam judul buku Goenawan Mohammad yang judulnya Tuhan dan hal-hal yang tak selesai) soal Menikah! Berpasangan? Tidak kedua-nya.

Sampai suatu ketika ada yang tanya sm gue, kalau sudah jalan2 ke pelosok, menerabas batas negara dengan paspor lokal, hampir tiga bulan masak, nyuci bebersih rumah sendiri di tengah hutan, ketakutan tiap malem, takut ada orang mabok yang tiba2 dobrak pintu, mana kalau tidur gue kebo banget lagi. Tapi untungnya gue gak tidur sendiri karena ditemani bocah2 SD yang minta belajar baca, nulis, dan ngitung. Pengalaman lainnya juga adalah bisa satu perahu sama pencari gaharu yang berangkat ke hutan Malaysia, dipaksa merokok tapi gue bingung cara menghiasapnya, gak keluar asep, udah aja langsung gue buang. Pernah ikut jualan jamu di Malaysia, satu barak berbulan2 dgn tentara.
Itu semua mau diceritakan ke siapa? (Selain ke pembaca blog ini tentunya)
Kalau tiga tahun tiga bulan lalu sih jawabannya:
Nah, disitu gue berpikir tentang apa pentingnya keturunan dalam sebuah mahligai penikahan. Namun saat itu, gue mikir mungkin kalau gue tak berjodoh dengan siapapun di dunia ini, kita tak harus bercerita dengan anak kandung kan? Di situ gue masih mikir kalau gue radikal bebas:
Ya, gue adalah radikal bebas (kata temen gue namanya Pratiwi Ayuningtyas). Kan kalo gue gak nikah gue bisa jadi radikal bebas seutuhnya.
Waktu bergulir, gue lulus, beberapa kali ikut proyek penelitian dengan waktu yang absurd nan menyita, bahkan kebutuhan jasmani, rohani, dan hati menjadi terabaikan. Beberapa waktu lalu, gue rasa hal itu baik, positif, gue puas bisa menghasilkan laporan penelitian, artikel, atau sekadar potongan tulisan di blog. Tapi apa iya? Apa itu hanya pelarian terhadap sesuatu yang kosong di jiwa gue?

Sudah 1 tahun 4 bulan gue mencoba pekerjaan dengan waktu kerja konvensional seperti orang-orang kebanyakan, sesuai permintaan nyokap. Kata nyokap pekerjaan gue sebelumnya kurang baik sebab waktu kerja absurd, itu tak baik untuk perempuan. Lagi pula saat itu gue baru selesai ngerjain satu projek penelitian dan sempat dikecewakan oleh sistem proyek tersebut. Ngelamar, wawancara, ditelpon, dan diterima di tempat kerja gue yang sekarang. Bagian ini sebenarnya mau banget gue ceritain pada artikel selanjutnya.
Nah, di tempat ini belajar ttg banyak hal. Pekerjaan yang bukan hanya melatih dan mengasah kelebihan gue, tapi juga menguji kekurangan gue, dan bagaimana cara agar gue takterperosok atas kekurangan (bahkan kelebihan) yg gue miliki? 
Awalnya sempat kaget terhadap sistem kerja serta peer group di tempat ini yang baru banget. Sempet beberapa waktu linglung. Tiap hari bangun pagi kepala rasanya berat semacam dihantam ribuan batu. Segalanya gue pikirin secara detail, bahkan untuk yang remeh temeh. Sampai pada akhirnya gue nyalahin kereta yang berjubel dan gue memutuskan untuk ngekost, yang cuma bertahan dua bulan. Karena juga tak mengubah kelinglungan gue. Artikel linglung juga akan gue cerita ini mungkin nanti pada waktunya.

Tapi gue percaya gak ada lingkungan yang salah, begitu pun dengan manusia yang pada dasarnya semua baik. Gue pun merevisi posting gue sebelum ini:
Tak Semua Orang Itu Baik
Hanya kita saja yang menjadi negatif di lingkungan, atau kalau soal manusia bukan dikotomi jahat atau baik. Mereka punya kepala dengan frekuensi yang beda. Di titik ini Bu Bos dan teman2 Subdit banyak mengajari gue ttg banyak hal yang mungkin dulunya gue abaikan. Ini sebenarnya akan bisa jadi satu artikel sendiri.
 
Singkat kata, pelajaran berharga yang gue ambil di sini adalah mencoba mengerti dan memahami perasaan orang lain. Ini yang tidak atau belum gue dapatkan di pekerjaan, kelompok bermain, atau lingkungan gue sebelumnya.  Mungkin gue gak akan mendapatkan ini kalau saja gue langsung ambil S2.
Setelah gue introspeksi, kehidupan gue di masa lalu lebih mengorbit pada lingkungan yang orang2 di dalamnya satu frekuensi dan seringkali saat mendapati sesuatu yang "beda" lebih milih untuk jadi outsider. Disitu gue merasa bebas mengeksplorasi apapun. Fokus karena jiwa gue bebas. Tapi apa bener begitu? 

Anna Wintour, salah satu tokoh yang sangat penting dalam dunia mode, editor in chief Majalah Vogue, adalah orang yang gue kagumi, dia bisa membuat image Vogue sebegitunya. Sulit untuk mendeskripsikan hal tersebut di sini. Ini akan jadi artikel sendiri. Tapi apakah kalian mau hidup "sekering" itu? Hal yang  mulai gue takutkan adalah meninggal sendirian di rumah dan baru diketahui jenazah beberapa hari kemudian. Itu sedih.

Undangan kawinan mulai dateng, Pratiwi Ayuningtyas yang dulu pernah nyebut gue radikal bebas tanggal 31 Juli nanti akan menikah. Semoga lancar ya Kak. Aamiin.

Ditambah tiap ada kesempatan terutama saat arisan keluarga, atau nikahan sepupu, nyokap mulai kode-kode intinya minta gue jangan jutek dan mulai cari pacar. Padahal masih inget banget dulu zaman SMA gue pernah diomelin abis2an gara2 ginian smpe trauma. Hiks. Sekarang malah nyuruh. Untuk hal ini gue lebih percaya sama nasehat Nenek gue pas kemarin Pulang kampung, yang juga Mendadak minta cucu mantu. Pusing gue, tiap ada moment senggang pasti nyinggung soal itu. Gue minta aja Mbah gw untuk nyariin. Tapi gue malah diomelin, katanya Perempuan itu gaboleh nyari, gaboleh pilih-pilih. Perempuan itu dipilih. Dan satu lagi ya, kalau bisa orang Jawa. What?? Jawa yang patriarki abesss. Huks, makin ribet, sementara gue gak yakin ada apa gak ya yang milih gue, tapi gue dihujam pertanyaan-pertanyaan bertubi2? 

Pandangan gue pada fase terdahulu ttg pandangan soal menikah yang masih sederhana itu berubah, walau belum juga dapat dikatakan lebih. Pekerjaan dengan waktu kerja dan lokasi kerja di pusat kota membuat gue juga banyak mengubah pandangan gue soal jodoh yang sepertinya akan gue tuliskan pada artikel selanjutnya.

وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”  [QS. Adz Dzariyaat (51):49].

Tiga tahun, tiga bulan, melahirkan satu tahapan fase di kehidupan gue. Ditambah sedikit teori dari buku-buku atau artikel sembarangan dan non sembarangan yang gue baca, sedikit memperhatikan contoh di lapangan soal ayat mengapa segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan? Kenapa Alloh tak menciptakan reproduksi yang juga memungkinkan manusia dari jenis yang sama untuk memiliki anak?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al Hujuraat (49):13]
 


Sedari SD gue amat terobsesi dengan cerita-cerita berbau etnis yang dulu gue anggap barbar, eksotis abis. Sampai akhirnya di salah satu pelajaran di satu pelajaran agama SD gue suruh ngapalin Q.S. Hujuraat: 13. Akan asik sekali kalau di kehidupaan gue kerjaannya jalan-jalan dan mengenal orang-orang dari berbagai suku bangsa seperti di ayat tersebut.  Hingga akhirnya takdir membawa gue untuk kuliah di antropologi. Tapi menginjak semester 7, gue dibilang kalau belum bisa paham manusia? Apaaaa???
Berpasangan dan mengenal? Mengenal bangsa tak harus juga kita berpasangan... Kemarin2 gue sih oke2 aja jalan sendirian.  Gak ada masalah. Lantas apa sih hakikat manusia itu harus berpasangan? 
.....
Barangkali agar kita saling mengenal, kemudian mengerti dan paham. Semakin mengenal, mengerti, dan memahami pasangan, kita menyelaminya waktu demi waktu, niscaya kita akan mengenali siapa diri kita, hakikat kita sebagai manusia, untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Saat kita bisa mengenal pasangan, paham, kita juga bisa paham diri kita, mungkin itulah yang menjadi pelita kedamaian untuk orang2 sekitar. Dan inilah barangkali alasan mengapa Alloh memberikan pahala lebih untuk ibadah2 yang dilakukan orang2 yang sudah menikah. 


Kamu akan menikah atau sudah menikah? Asik banget sih.

6 Okt 2015

Tak Semua Orang Itu Baik

Dan sekarang beneran gue harus belajar bahwa tak semua orang itu baik. Gak bisa juga gue berharap semua orang akan baik jika gue baik. 

Oke, gue telat terima kalo konsep jarsos itu benar adanya, hubungan terjalin kalo kita punya mau. Seberapa kuantitas yang bisa elo kasih, menentukan Lo patron atau klien. Anjrit, mengarah ke oportunis. Tapi gue gak mau jadi orang yang oportunis. Jadi orang yang bertindak dengan maksud bla bla bla. 

Ngeyel!

welcome Jay,
To the real world.

Dunia Nyata, yang siap membunuh Lo!



4 Sep 2014

Batu Perupun


Waktu di Long Bawang, saat menginap di Agung Raya, saya sempat berbincang dengan Pak Agung, Ketua Adat Besar Krayan Darat. Ia sempat menceritakan sedikit kepada saya soal sebuah artefak batu yang berada di Desa Trang Baru. Jadi pada zaman dahulu kala ada sepasang suami isteri yang kaya raya. Penanda kekayaan pada masa itu atas didasarkan atas kepemilikan kepemilikan tempayan dan manik-manik. Sayang walau mereka berdua adalah orang yang kaya raya, keduanya hanya dikaruniai satu orang anak. Suatu ketika, anaknya meninggal karena sakit. Jelas, kedua orang tuanya ini sedih bukan kepalang. Berhari-hari keduanya menangis. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menguburkan jenazah anaknya beserta seluruh harta tempayan dan manik-manik lama yang mereka miliki. Keduanya meminta seluruh penduduk kampung untuk membantu menyusun bebatuan diatasnya. Jadilah bebatuan ini dinamakan batu perupun yang artinya batu bertumpuk.

Saat saya berada di Terang Baru, jadi penasaran untuk mengunjungi Batu Perupun. Berjalanlah saya ke ujung desa. Wah, terlihat tanah yang lapang dan jejeran gunung-gunung, yang begitu lapang.


Batu Perupun, Trang Baru, 8 Juli 2014



Di Batu Perupun bersama anak-anak Trang Baru yang saya recoki main sore-nya. 
Sayang saat ini bebatuanya sudah tidak jelas lagi susunannya. Sudah ada yang pernah membongkarnya. Kabarnya mereka menemukan manik-manik lama. Padahal sudah dilarang oleh orang-orang tua di tempat ini.
Nah, berikut ini penampakan batunya.