4 Sep 2014

Batu Perupun


Waktu di Long Bawang, saat menginap di Agung Raya, saya sempat berbincang dengan Pak Agung, Ketua Adat Besar Krayan Darat. Ia sempat menceritakan sedikit kepada saya soal sebuah artefak batu yang berada di Desa Trang Baru. Jadi pada zaman dahulu kala ada sepasang suami isteri yang kaya raya. Penanda kekayaan pada masa itu atas didasarkan atas kepemilikan kepemilikan tempayan dan manik-manik. Sayang walau mereka berdua adalah orang yang kaya raya, keduanya hanya dikaruniai satu orang anak. Suatu ketika, anaknya meninggal karena sakit. Jelas, kedua orang tuanya ini sedih bukan kepalang. Berhari-hari keduanya menangis. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menguburkan jenazah anaknya beserta seluruh harta tempayan dan manik-manik lama yang mereka miliki. Keduanya meminta seluruh penduduk kampung untuk membantu menyusun bebatuan diatasnya. Jadilah bebatuan ini dinamakan batu perupun yang artinya batu bertumpuk.

Saat saya berada di Terang Baru, jadi penasaran untuk mengunjungi Batu Perupun. Berjalanlah saya ke ujung desa. Wah, terlihat tanah yang lapang dan jejeran gunung-gunung, yang begitu lapang.


Batu Perupun, Trang Baru, 8 Juli 2014



Di Batu Perupun bersama anak-anak Trang Baru yang saya recoki main sore-nya. 
Sayang saat ini bebatuanya sudah tidak jelas lagi susunannya. Sudah ada yang pernah membongkarnya. Kabarnya mereka menemukan manik-manik lama. Padahal sudah dilarang oleh orang-orang tua di tempat ini.
Nah, berikut ini penampakan batunya.










30 Jun 2014

Depok-Tarakan (H1)

Ada 7 barang yang di taro di bagasi. Saya harus menjaga semua barang itu dengan lengkap. Berat. Yap, semua barang-barang itu berjumlah 58 kg. Tapi tak apa lah, demi Krayan. Biar 1000 kg pun dijabanin.
Sampai di Tarakan sudah lewat magrib, saya tak puasa. Padahal kalau saya puasa itu sangat menyenangkan, huehe. Tapi, perjalanan ini juga sudah jauh menyenangkan. Tidur di Swiss-Hotel. Makan nasi bakar bandung. Ya, saya berharap akan bertambah gemuk selama fieldtrip ini. Lumayan. Biar celana gak kedodoran lagi.

Ada ketakutan saya di malam ini. Jadwal pesawat ke Krayan belum jelas. Tolong ya Alloh. Kutelah merelakan tak pergi berkunjung ke suku Anak Dalam, Jambi. Demi bisa ke Krayan, tempat yang semasa expedisi pengen banget saya datangi. Huh, gara-gara rombongan ibu Persit, jadi gagal berangkat. Sekarang, jangan sampai gagal lagi ya Alloh. Kan sekarang saya udah lulus, tidak ada utang-utang akademis yang memberatkan-Mu untuk tidak mengabulkan yang ini. Kalau Engkau mengabulkan keinginan ini, saya janji akan lebih bisa kontrol emosi untuk keluyuran.

Gak perlu sampai Ba'kelalan Ya Alloh, cukup Krayan. Berburu orang-orang tua, lalu....duduk, diam, dengar, rekam, catat seluruh dongengnya.

Oke Ya Alloh? Allohku Yang Maha Baik.


29 Jun 2014

Lunas

Segenap syukur pada Alloh Yang Maha Pemberi Anugerah. Semoga keberkahan skripsi ini tercurah kepada:
"Keluarga tersayang: Mama, Bapak, Dwi dan Trio, atas kesabaran yang seluas jagat raya"
"Teman-teman SMA: Osis 89-21, PSHT 89, Rohis 89, Formis 89, Geng Mentoring dan spesial Lebayer (Ulan, Jejel, Ciwe, Dwita)"
"Seluruh penduduk di Hulu Sembakung. Spesial untuk keluarga di Labang yang mengajak saya menyusuri Sungai Pensiangan sampai ke pemukiman di Tenom: Kak Diso, Pak Abis, Kak Yusi, dan Si Cantik Sira. Orang-orang yang sudah memberi tumpangan perahu: Pak Busiau, Pak Sapiri, Pak Koboyon, Pak Untung, Katuy, dan Dian. Adik-adik di Labang, selaku penerjemah, teman bermain, dan teman tidur: Wini, Anjiluk, Sika, Samoneng, Sira, Inaisia, Muli, Mimiu, dan lain-lain."
"Dua dosen yang menjadi inspirator saya, pembimbing skripsi dan mata kuliah penelitian etnografi: Dave Lumenta dan Hilarius S. Taryanto."
  • Dewan penguji skripsi, atas ketelitian dan saran yang semakin melengkapi skripsi ini: “Mba Uci, Bu Endang, Mas Ezra”
  • Dosen-dosen antropologi lainnya yang telah membentuk kerangka berfikir saya: Pak Jajang (Pembimbing Akademik), Pak Afid, Mas Rudy Agusyanto, Mas Rusli, Pak Emmed, Mas Iwan Pirous,  Pak Iwantjitra, Bu Yunita, Mas Tony, Mba Dian, Bu Meutia, Mas Pri, Bu Yasmine, Mba Inge, dan semua dosen tamu maupun kelas seminar yang saya ikuti.
  • Bapak Petugas Perpus Pusat  Lt. 2 yang super ramah, baik banget, dan pernah bayarin ongkos pulang. 
  • Teman-teman peer group dan organisasi semasa kuliah: Geng Zurig, K2N UI 2011-Geng Wasior, BPM FISIP 2010, Salam UI XV, HMI Komisariat FISIP, dan PPKM.
  • Mayjend Wisnu Bawa Tenaya; Kolonel Iwan Setiawan; Kolonel Achirudin; Kolonel Dedi Hadria; Sertu Sugianto, Bapak Bais dan BIN yang katanya tidak boleh disebutkan namannya.
  • Seluruh teman-teman Ekspedisi Khatulistiwa 2012 (yang sudah ter-emboss di hati saya, walaupun di sini tidak dapat dituliskan satu persatu). Spesial untuk tim Nunukan dan geng skrikandi: “di mana pun kita berada, di situ harus ada getaran semangat, pam pam pam!”.
  • Seluruh Birokrat Lumbis dan Lumbis Ogong. Koramil, spesial untuk Pak Maryoto; Polsek; Kantor Camat, spesial untuk Pak Daud dan Pak Lumbis; dan Kantor Imigrasi Mansalong. Rumah-rumah orang-orang baik yang saya tumpangi; Pak Sughiarto, Ka Yusta (Mama Salumai tercinta), dan spesial untuk Pak Agusran dan Nenek yang menyediakan tempat singgah dan kamar mandi nyaman saat di Mansalong. 
  • Bapak baik hati yang memberikan uang untuk ongkos pulang saat kartu atm saya hilang.
  • Adrian Linder, yang banyak memberikan rujukan kepustakaan Agabag.
  • Sesama produk Antrop setengah mateng yang intens mengerjakan skripsi bersama: Uppe, teman debat; Afifah, teman ngebolang; Fitri, teman debat soal ‘yang tidak terdefinisikan’ dan tempat pinjem duit; Fitri Huda (ini produk Arab), sang musuh bebuyutan; Lina, partner begadang di KFC; Ola, gadis Padang yang menyenangkan; Nova, gadis manja tingkat dewa; Anya, 100% cinta; Dani, si ksatria bergitar.
  • Seluruh teman-teman antrop, spesial untuk antrop 2009 dan 2010 yang memberikan pelajaran bahwa kehidupan ini perlu juga diwarnai dengan nuansa oposisi.
  • Semua teman-teman yang pernah menemani “tidur” selama lima tahun ini; Triwulan, Mba Uut, Mba Enggar, Ka Ori, Ka Enung, Ka Astri, Eka, dan Daya. Keluarga unit tiga lainnya Nia, Niken, Dian, Iman, Intan, Ka Irah, Ka Heni, Ka Winda, Ka Linda, Ka Ela. Tentunya juga untuk Mba Yani, yang sudah mengizinkan nunggak bayaran, terutama saat beberapa bulan saya di Kalimantan.    
  • Pihak-pihak yang telah mengisi rekening BNI saya selama empat tahun masa kuliah: Dikti, Bank Indonesia, Pertamina Foundation, Les Privat Matrix, KSE, dan Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan.
Kepada berbagai pihak yang terlewat atau sengaja saya lewatkan, semoga Alloh membalasnya dengan rahmat terbaik. Aamiin.

Semoga beragam tugas setelah ini akan selalu berada dalam naungan ridho-Nya.