2 Nov 2017

Cerita Rakyat sebagai Media Internalisasi Nilai Budaya Masyarakat

Kita bisa mengartikan Cerita Rakyat sebagai paparan mengenai segala sesuatu  mengenai kejadian, asal-usul terjadinya sesuatu, tokoh tertentu, asal-usul tempat, asal-usul benda, dan lainnya yang tersimpan dalam benak anggota masyarakat pendukungnya dan diwariskan di antara mereka pemilik kebudayaan, baik secara lisan, dengan atau tanpa menggunakan alat pembantu pengingat serta melalui media internet.

Ada paparan mengenai sesuatu yang dianggap benar-benar terjadi, tokoh dalam paparan tersebut bukanlah manusia, melainkan dewa atau makhluk setengah dewa. Paparan tadi dianggap suci oleh yang memiliki cerita tersebut, bahkan senantiasa mendorong masyarakatnya dalam melakukan hal tertentu, misalnya membuat cerita tersebut menjadi sesuatu yang keramat, menyembah, serta memberikan sesaji. Cerita folklore seperti ini digolongkan sebagai mite (myth), misalnya cerita mengenai asal-usul orang Tengger di Gunung Bromo yang menjadikan adanya upacara "Kesadha".

Ada lagi paparan mengenai sesuatu yang tokohnya bertindak seperti manusia biasa, dianggap pernah benar-benar terjadi dan memiliki peninggalan secara fisik tetapi tidak dianggap suci oleh masyarakat pendukungnya. Cerita seperti itu digolongkan sebagai legenda (legend). Contohnya legenda Sangkuriang, Atu Belah, Malin Kudang, dan lain-lain.

Sementara itu ada satu cerita yang bersifat fiktif, hanya rekaan belaka. Tentu tidak lagi dianggap pernah terjadi, sudah pasti tidak dianggap sakral, cerita seperti inilah yang digolongkan sebagai dongeng, seperti cerita Sang Kancil Mencuri Ketimun, dan lain-lain.

Cerita mengenai gunung Bromo dan orang Tengger oleh masyarakat desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, yang adalah anggota masyarakat Sub Suku Bangsa Tengger tentu dianggap sebagai Mite, tetapi oleh orang Surabaya bisa jadi hanya digolongkan sebagai legenda karena dianggap pernah benar-benar terjadi karena memang tampak gunung Bromo dan batoknya. Sementara oleh orang Jakarta, Bandung dianggap sebagai dongeng belaka.

Apa Perbedaan Cerita Rakyat dan Sejarah?

Cerita Rakyat dan Sejarah, yang membedakannya adalah berkenaan dengan sumbernya. Cerita Rakyat bersumber pada segala sesuatu yang adanya tersimpan dalam pikiran anggota masyarakat suatu komunitas (folk) tertentu, yang kemudian diteruskan pada generasi berikutnya secara lisan dari mulut ke mulut. Sementara sejarah sumbernya adalah segala sesuatu yang tercetak atau tertulis seperti: prasasti, surat-surat, primbon, gambar/foto, dokumen pribadi, silsilah keluarga, dan lain-lain yang bersifat tersurat. 

Fungsi Cerita Rakyat

Adapun fungsi Cerita Rakyat antara lain:
  1. Alat Pendidikan: Legenda Malin Kundang dan Dongeng Si Kancil Mencuri Ketimun.
  2. Alat Penunjuk Penguatan Identitas Kesukubangsaan: Legenda Si Pitung (Betawi) dan Sangkuriang (Sunda).
  3. Pengesah Pranata: Cerita-Cerita Horor
  4. Hiburan dan Pengisi Waktu Senggang, biasanya berupa dongeng. 
  5. Fungsi ekonomi, sebagai mata pencaharian (pendongeng)
  6. Sebagai sumber ide garapan dalam seni pertunjukan, baik di panggung (karya tari dan teater) maupun melalui media elektronik.

Perkembangan Cerita Rakyat 

Agar Cerita Rakyat dapat terus bertahan dan berkembang, makan paparan cerita itu harus dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Di sinilah diperlukan orang-orang tertentu yang penuh kreativitas untuk memodifikasi cerita-cerita tersebut dalam bentuk versi-versi atau bahkan varian baru. Misalnya: Malin Kundang pergi merantau tidak dengan naik kapal laut, tetapi pergi dengan pesawat ke Amerika untuk studi di Harvard University; itu namannya versi masa kini. Jadi dibutuhkan ide-ide kreatif.

Cara menyampaikan cerita tidak harus dengan gaya lisan dengan bertutur, mendongeng, tetapi melalui komik, film kartun, animasi atau dalam bentuk games, bisa juga dalam bentuk seni pertunjukan yang dipentaskan. 

Sebagaimana terdahulu sudah dibahas bahwa cerita rakyat dapat berfungsi sebagai penunjuk/penguat identitas kesukubangsaan; dalam contoh luas juga bisa berfungsi sebagai penguat/penunjuk identitas nasional (national branding). Misalnya cerita tokoh Srikandi atau Gatot Kaca atau Gajah Mada kalau digarap bisa berperan layaknya superman, superhero, atau wonder woman, atau bionic woman.



1 Nov 2017

Warisan Budaya Takbenda Indonesia UNESCO

Indonesia meratifikasi Konvensi UNESCO Tahun 2003 tentang "safeguarding of intangible cultural heritage" melalui Perpress RI No. 78 tahun 2007. Sejak saat itu, Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang sudah masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO ada 6 Warisan Takbenda, antara lain:

  1. Wayang: The Traditional Puppetry and Drama of Indonesia tahun 2008 dalam Kriteria Representatif  List of Intangible Cultural Heritage of Humanity.
  2. The Indonesian Kris: Tradition, Social function, art, philosophy, mystique tahun 2008 dalam Kriteria Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity.
  3. Indonesian Batik tahun 2009 masuk dalam Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity.
  4. Education and Training in Indonesian Batik Intangible Cultural Heritage for elementary, junior, senior, vocational school and polytechnic students, in collaboration with the Batik Museum in Pekalongan pada tahun 2009 masuk dalam kriteria Programmes, projects and activities for the safeguarding of intangible cultural heritage considered to best reflect the principles and objectives of the Convention.
  5. Indonesian Angklung masuk dalam kriteria Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tahun 2010.
  6. Saman Dance masuk dalam Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding pada tahun 2011.
  7. Noken multifunctional knotted or woven bag, handcraft of the people of Papua masuk dalam  Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding pada tahun 2012.
Pengertian Warisan Budaya telah berubah jauh dalam beberapa dekade terakhir, instrumen yang digunakan oleh Unesco juga telah mengalami perkembangan. Warisan Budaya tidak hanya monumen dan artefak. Warisan Budaya juga termasuk diantaranya tradisi yang mengikuti  atau ekspresi budaya yang hidup dan diwariskan dari nenek moyang kita dan diteruskan secara turun temurun, seperti tradisi lisan, seni pertunjukkan, praktek-praktek sosial, ritual, festival, pengetahuan dan praktek mengenai alam dan semesta atau pengetahuan dan keterampilan untuk menghasilkan kerajinan tradisional.

Inventarisasi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia merupakan faktor penting dalam mempertahankan keanekaragaman budaya ketika menghadapi globalisasi. Pemahaman mengenai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari komunitas yang berbeda membantu dalam proses dialog antar budaya sehingga meminimalisir gesekan, dan mendorong terciptanya kondisi saling menghormati antar komunitas.

Arti penting Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia bukanlah pada manifestasi budaya itu sendiri, melainkan pada kekayaan pengetahuan serta keterampilan yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Nilai sosial dan ekonomi dari pengetahuan tersebut mengalami transmisi untuk dapat menunjang keberlangsungan kelompok minoritas dan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam suatu negara, dan kebergunaannya bagi negara-ngera berkembang yang bertujuan untuk modal pembangunan.

Kriteria Safeguarding for Intangible Cultural Heritage UNESCO dibagi dalam 3 kriteria utama:
  1. Daftar Warisan Budaya Takbenda yang memerlukan pelindungan mendesak (Need of urgent safeguarding)
  2. Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda untuk kemanusiaan (Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity)
  3. Register bagi Praktik-Praktik Pelindungan yang Terbaik (Register of Best Safeguarding Practices)


31 Okt 2017

Antropologi dan Penerapan Kebijakan

Kita membahas tulisan Haenn dan Casagrande yang terinspirasi dari isu "Environment, Resources, and Sustainability" pada sebuah konferensi mengenai hubungan antropologi terhadap pembuatan dan penerapan kebijakan. Terkait dengan perubahan lingkungan yang terjadi, peran antropolog terkait erat dalam pekerjaannya sebagai "advokat" dalam pembentukan kebijakan semisal sekarang yang banyak terjadi adalah dalam isu lingkungan. Sebenarnya hubungan antara antropologi dengan teorinya bisa menghasilkan solusi kebijakan lingkungan, relevansinya diterjemahkan ke dalam tindakan pemerintah "berupa kebijakan".


Maka, antropolog seringkali ditempatkan sebagai "pengontrol arena kebijakan" yang secara bersamaan antropolog juga bertindak sebagai pengelola lingkungan karena kedudukan disiplinya pada pusat pembuatan kebijakan lingkungan. Dalam hal ini, antropolog dilokasikan sebagai advokat yang menjadi pusat inisiatif kebijakan dalam kegiatan berkoalisi terhadap perubahan lingkungan melingkupi identitas, termasuk kelas, ras, etnis, dan perbedaan profesi. Antropolog disini berperan sebagai penerjemah, advokat, peneliti, otoritas, pengetahuan, pembangun koalisi, dan aktivis dalam posisinya sebagai perantara budaya. Sehingga menekankan pada pembentukan kualitas dari kebijakan dan kemampuan antropolog ke tindakan sebagai koreksi terhadap hagemoni gagasan.

Saat antropolog dipinggirkan, posisinya berada dibawah kategori ilmu sosial umumnya, antropolog bisa mulai dengan mengubah wilayah politiknya melalui pendekatan hubungan sebagai sumber yang rahasia dibagian dalam pengetahuan menyedianan petunjuk untuk hirarki keberadaan tingkatan. Ditempat lain, peran terhadap ilmuan sosial dan fisika dalam berkoalisi membawa bersama pembuatan kebijakan, ilmuan, dan rakyat awam sebagai sebuah sumber dari solusi terhadap masalah lingkungan. Masyarakat melihat ilmu pengetahuan sebagai hal yang mempengaruhi kerusakan lingkungan, sehingga timbul kebutuhan untuk untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang hilang terhadap sang ilmuan.

Menurut Fischer, antropologi memiliki kemampuan mendistorsi perdebatan ilmuan pengetahuan atas lingkungan terhadap masalah interpretasi data. Antropologi merupakan penghubung pihak-pihak yang kontra. Pengaturan lingkungan, masyarakat kembali ke persoalan budaya yang bersifat rasional daripada ilmu pengetahuan formal. Koalisi lingkungan secara multikultural, ilmuan berperan untuk menghubungkan masyarakat awam dengan memperkecil integritas pribadi, ramah-tamah, dan kemampuan untuk melakukan akses penggabungan politik atau otoritas intelektual.

Penelitian antropologi sesungguhnya disiapkan dalam kaitannya dengan pengaturan kebijakan yang bisa diterapkan dalam beragam tingkatan. Di sisi lainnya, antropolog sebagai "pengantar budaya" membutuhkan kemampuan baru, seperti kemampuan negosiasi, komunikasi lintas budaya, dan pengelolaan konflik, Kualitas multikultural seorang antropolog dalam mengatur lingkungan memiliki kontribusi terhadap kebijakan melawan memaknai perubahan struktur terhadap berbagai konflik lingkungan. Antropologi memiliki kontribusi untuk membentuk kebijakan yang tergambar dengan penuh perhatian dalam keteraturan etis seorang antropolog.

Stratherm melihat bahwa tindakan pergerakan, memecahkan permasalahan sosial dengan mengajukan tantangan dan peluang bagi seorang antropolog. Relevansi seorang antropolog pada kebijakan berada dalam posisi yang kaku. Restrepo dan Escobar mengamati beberapa jenis tradisi antropologi, dengan cara demikian praktik dan teori antropologi memiliki tempat di luar pendekatan Amerika dan Eropa itu sendiri. 

Strathem menunjukan bagaimana etnografi melakukan analisis peran kreatif manusia, secara kreatif merupakan perlawanan terhadap prediksi ilmu pengetahuan sosial. Keadaan seperti ini menghasilkan peristiwa dan tidakan yang sulit untuk diduga. Dalam kacamata Antropologi, "pemerintah merupakan kunci untuk mengatur konsep budaya, sementara pihak keluarga dan masyarakat juga dilibatkan dalam proses pembentukan kebijakan". 

Pembetukan kebijakan terkait strategi pembagian air, analisa bisa kita tulis secara besar-besaran yang berhubungan tentang politik, etnis, dan negosiasi kekuasaan yang dilibatkan dalam prosesnya, yang mereka sebut dengan "problem definition". Istilah tersebut berkaitan dengan definisi masalah mengontrol bagaimana kebijakan dikembangkan dan berusaha diimplementasikan. Inovasi dan perombakan institusi sering terjadi sepanjang krisis politik, organisasi, dan sistem legal yang mencakup institusi kebijakan menujuj pada gagasan baru. Bentuk krisis pada titik ini melibatkan antropolog dan ilmuan sosial untuk melakukan pernyataan singkat terhadap peluang untuk mengikat proses kebijakan lingkungan lebih jauh ditambahkan pada pengembangan secara akademik dan bersifat penelitian. Pergerakan melalui pendekatan ekologi, digunakan untuk memperjelas keberadaan manusia dan sejarahnya dalam lingkungan sekitarnya pada basis perilaku.

Integrasi melalui beberapa ahli disiplin ilmu seperti ekolog, antropolog, dan sosiolog, dengan pemilik modal melalui sebuah metode yang disebut dengan "adaptation experimentation". Adaptasi di sini adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan upaya pengelolaan keseimbangan, kebijakan, duplikasi penelitian, kekayaan etnografi, dan etika penelitian. Hal ini membuat campur tangan perencanaan manusia sebagai subjek yang ikut serta dalam rancangan penelitian. Hipotesis ditambahkan dalam proses refleksi ketidakpastian ekologi dan kompleksitas sosial. Kita bisa melihat contoh keterhubungan kebijakan dan penelitian pada permasalahan air di Universitas State Arizona. Dijelaskan mengenai kota Gurun yang memiliki persediaan air sangat minim, hal ini membuat terbentuknya suatu kebijakan mengenai air menggunakan penelitian dari Arizona State University dengan mendapatkan subsidi dari National Science Foundation untuk membuat keputusan terhadap kasus ini. Percobaan untuk melakukan integrasi ke pusat keputusan dalam rangka membangun kerangka kerja termasuk peluang untuk ikut menyelesaikan "problem definition" melalui penjelasan mendalam, kritikan teori, dan penelitian lintas budaya yang memberikan pemahaman baru. Kebijakan ini terbentuk dengan hasil penelitian dan percobaan yang disediakan untuk mengubah masalah masyarakat.

Kolaborasi disiplin ilmu terkait dengan isu lingkungan melakukan fokus pada ekologi dan antropologi lingkungan memiliki relevansi dengan ilmu sosial lainnya. Poin-poin penting adalah sebagai berikut:
1) Antropologi bisa lebih terlibat dengan keilmuan ekologi biologi sebagai satu cara untuk memperkaya relevansi antropologi kaitannya dengan masyarakat.
2) Penelitian antropologi bisa membantu ilmuan sosial, dalam hal ini antropolog bisa ikut serta dalam satu bagian utuh dari proses pengembangan kebijakan. 
3) Percobaan adaptasi memperbolehkan antropolog untuk melakukan kolaborasi dengan ilmu lain seperti ekologi dan biologi dalam berbagai pengembangan teori baru, dalam memperluas partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan.

Antropologi memiliki peluang besar untuk melakukan kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya karena itu, etika antropologi untuk memajukan kehidupan masyarakat dan menjamin penelitian menjadi terpadu dalam satu ikatan kebijakan antar disiplin. Kolaborasi antar disiplin ini memiliki arti penting dalam hal pengembangan teori dan metode.