6 Okt 2015

Tak Semua Orang Itu Baik

Dan sekarang beneran gue harus belajar bahwa tak semua orang itu baik. Gak bisa juga gue berharap semua orang akan baik jika gue baik. 

Oke, gue telat terima kalo konsep jarsos itu benar adanya, hubungan terjalin kalo kita punya mau. Seberapa kuantitas yang bisa elo kasih, menentukan Lo patron atau klien. Anjrit, mengarah ke oportunis. Tapi gue gak mau jadi orang yang oportunis. Jadi orang yang bertindak dengan maksud bla bla bla. 

Ngeyel!

welcome Jay,
To the real world.

Dunia Nyata, yang siap membunuh Lo!



4 Sep 2014

Batu Perupun


Waktu di Long Bawang, saat menginap di Agung Raya, saya sempat berbincang dengan Pak Agung, Ketua Adat Besar Krayan Darat. Ia sempat menceritakan sedikit kepada saya soal sebuah artefak batu yang berada di Desa Trang Baru. Jadi pada zaman dahulu kala ada sepasang suami isteri yang kaya raya. Penanda kekayaan pada masa itu atas didasarkan atas kepemilikan kepemilikan tempayan dan manik-manik. Sayang walau mereka berdua adalah orang yang kaya raya, keduanya hanya dikaruniai satu orang anak. Suatu ketika, anaknya meninggal karena sakit. Jelas, kedua orang tuanya ini sedih bukan kepalang. Berhari-hari keduanya menangis. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menguburkan jenazah anaknya beserta seluruh harta tempayan dan manik-manik lama yang mereka miliki. Keduanya meminta seluruh penduduk kampung untuk membantu menyusun bebatuan diatasnya. Jadilah bebatuan ini dinamakan batu perupun yang artinya batu bertumpuk.

Saat saya berada di Terang Baru, jadi penasaran untuk mengunjungi Batu Perupun. Berjalanlah saya ke ujung desa. Wah, terlihat tanah yang lapang dan jejeran gunung-gunung, yang begitu lapang.


Batu Perupun, Trang Baru, 8 Juli 2014



Di Batu Perupun bersama anak-anak Trang Baru yang saya recoki main sore-nya. 
Sayang saat ini bebatuanya sudah tidak jelas lagi susunannya. Sudah ada yang pernah membongkarnya. Kabarnya mereka menemukan manik-manik lama. Padahal sudah dilarang oleh orang-orang tua di tempat ini.
Nah, berikut ini penampakan batunya.










30 Jun 2014

Depok-Tarakan (H1)

Ada 7 barang yang di taro di bagasi. Saya harus menjaga semua barang itu dengan lengkap. Berat. Yap, semua barang-barang itu berjumlah 58 kg. Tapi tak apa lah, demi Krayan. Biar 1000 kg pun dijabanin.
Sampai di Tarakan sudah lewat magrib, saya tak puasa. Padahal kalau saya puasa itu sangat menyenangkan, huehe. Tapi, perjalanan ini juga sudah jauh menyenangkan. Tidur di Swiss-Hotel. Makan nasi bakar bandung. Ya, saya berharap akan bertambah gemuk selama fieldtrip ini. Lumayan. Biar celana gak kedodoran lagi.

Ada ketakutan saya di malam ini. Jadwal pesawat ke Krayan belum jelas. Tolong ya Alloh. Kutelah merelakan tak pergi berkunjung ke suku Anak Dalam, Jambi. Demi bisa ke Krayan, tempat yang semasa expedisi pengen banget saya datangi. Huh, gara-gara rombongan ibu Persit, jadi gagal berangkat. Sekarang, jangan sampai gagal lagi ya Alloh. Kan sekarang saya udah lulus, tidak ada utang-utang akademis yang memberatkan-Mu untuk tidak mengabulkan yang ini. Kalau Engkau mengabulkan keinginan ini, saya janji akan lebih bisa kontrol emosi untuk keluyuran.

Gak perlu sampai Ba'kelalan Ya Alloh, cukup Krayan. Berburu orang-orang tua, lalu....duduk, diam, dengar, rekam, catat seluruh dongengnya.

Oke Ya Alloh? Allohku Yang Maha Baik.