Langsung ke konten utama

Postingan

Jangankan Bermimpi Minum dari Keran, Air PDAM Bekasi Buat Cebok Saja Tidak Layak

Selama beberapa minggu terakhir, saya sebagai warga Bekasi mengalami petaka terburuk air PDAM. Jangankan bermimpi bisa minum langsung dari keran seperti di negara-negara maju. Untuk mandi, mencuci muka, menyikat gigi, bahkan cebok saja pakai air PDAM harus dipikirkan dulu, layak atau tidak. Rasanya tidak tega membasuh tubuh dengan air hitam berpasir yang keluar dari keran itu. Apa daya, sumuknya udara Bekasi, ditambah lagi apabila selepas pulang dari kerja di Jakarta, sampai rumah tetap harus mandi membasuh tubuh dengan air keran. Tapi, setiap habis mandi bukan rasa segar yang didapatkan, tapi gatal-gatal sekujur tubuh.     Air Bersih atau Kemampuan Membeli Air? Untuk mengatasi petaka ini, warga yang punya uang mencari jalan keluar sendiri. Mereka memasang filter air, beli air gallon, pakai jet pump, menggali sumur sendiri, beli alat tambahan lainnya yang bisa mengurangi dampak air kotor dari PDAM. Masalahnya, tidak semua warga punya uang untuk membeli solusi, sementara air me...
Postingan terbaru

My Dream Wedding on a Budget

Growing up in a lower-middle-class neighborhood in Jabodetabek, I was often surrounded by weddings held at home. I used to get annoyed by the noise from neighbors hosting weddings, which would last all day long. In my younger years, attending these home weddings felt uncomfortable. But attending weddings in halls wasn’t always perfect either—especially when the number of guests exceeded the venue’s capacity, with limited seating, leading to long lines just to get food. Of course, I wanted a wedding that invited as many people as my Mom wished, as well as my friends, but my budget was limited. It didn’t seem realistic for my parents, who were retired civil servants, to fund my wedding. So, the wedding I envisioned had to come from my own finances, along with whatever help my future husband or his family could offer. Ultimately, I was realistic; the fundamental aspect of my wedding was that it should be held outside my parents' home, ensuring that all guests could sit while eating an...

Paradigma Simbolik Turner, Liminalitas, dan Menjadi Manusia Radikal Bebas

Liminalitas adalah ruang paradoks, frasa tersebut saya pilih untuk menggambarkan secara singkat apa yang saya pahami ketika membaca "Ritual Proses" dari Victor Turner (1987). Berbeda dari Clifford Geertz yang memposisikan simbol sebagai “wahana pemaknaan” atas “ worldview ” yang dianut oleh komunitas. Turner lebih memberlakukan simbolisme pada tataran proses sosial, yaitu bagaimana konflik dan ambiguitas bekerja dalam satu fase daur kehidupan yang harus dilalui kolektif budaya. Kehidupan dijalani oleh seluruh kolektif dalam tatanan struktur, anti struktur dan kembali lagi pada tatanan struktur budaya. Konsekuensi atas struktur budaya adalah terciptanya hirarki kelas. Masyarakat memiliki struktur yang dapat terbaca melalui simbolisme ritual. Untuk itu, Turner (1987) dalam bukunya, “ The Ritual Process: Structure and Anti-Structure ”, mengurai makna simbolis pada ritual masyarakat Ndembu di Afrika Tengah ketika mengalami kondisi ambiguitas keadaan yang tidak dapat diselesaikan ...

Menelisik "Cultural Thought" Orang Agabag lewat Etnosemantik

Saat di lapangan riset, saya selalu tertarik untuk membuat catatan mengenai kosa kata bahasa masyarakat setempat. Selain memang kebutuhan untuk sedapat mungkin membangun komunikasi dalam bahasa lokal agar mudah dalam menggali data, saya mempercayai bahwa "Cultural Thought" suatu komunitas dapat ditelusuri melalui bahasa yang digunakan.  Pada salah satu bagian dari buku Re-thinking Psychological Anthropology karya Philip K. Bock (1980), tepatnya di bagian cognitive anthropology , diulas mengenai pentingnya “ethnosemantics” sebagai metode kajian linguistik pada masyarakat untuk memperoleh “ native system meaning ”. Etnosemantik mengkaji berbagai terminologi budaya yang terimpelentasi dalam kata atau bahasa masyarakat dan hal demikian dilakukan untuk memperoleh apa yang disebut sebagai pola “ cultural thought ”.  Kembali pada penelitian lapangan saya mengenai kelompok masyarakat Dayak-Agabag, dalam kerangka interaksi, komunitas ini mengalami persinggungan linguistik yan...

Pentingnya Pendokumentasi Musik Indie Jakarta ke dalam Media Buku

Di hari ekstra pada tahun kabisat sabtu lalu, saya datang ke sebuah acara yang diberi judul "Peluncuran buku, Musik Jakarta Vol.01" di Kinosaurus/Aksara Kemang, Jakarta Selatan. Diawali oleh rasa penasaran atas judul buku tersebut, dan juga tema diskusi yang akan berbicara soal dokumentasi musik untuk cerita masa depan. Konon katanya, musik berkisah mengenai apa yang terjadi pada masyarakat dalam satu kurun waktu. Jikalau begitu, mungkin fenomena "gimmick-gimmick musik indie" yang ramai pada kanal twitter beberapa waktu belakangan ini dapat menjawab apa yang sesungguhnya terjadi pada salah satu segmen populasi di Jakarta (dan sekitarnya). Sambil saya juga menerka-nerka, apakah "gimmick-gimmick musik indie" bisa jadi bonus atau malah petaka demografi (?). Singkat cerita, sore itu, saya datang buru-buru, agar tepat waktu karena tidak mau ketinggalan dikusi. Akan tetapi, acara telat dimulai. Hampir juga saya ketinggalan akibat salah tempat menunggu, ka...

Jangan Ngaku Travel Addict Kalo Belum ke TL. Takabonerate! (# Lomba Penulisan TL. Takabonerate 2012)

Surga di kawasan Sulawesi Selatan yang kelak akan menjadi surga dunia bagi seluruh umat manusia. Surga itu adalah kawasan Taman Laut (TL) Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar. Tempat seluas 530.765 hektar ini, sejak 2005 telah diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Ada 15 pulau di TL. Takabonerate yang sangat bagus untuk kegiatan rekreasi bahari. Jadi, bagi kamu bakalan puas banget untuk diving dan snorkeling di tempat   ini. Penyelaman di TL. Takabonerate (travel.detik.com) Peta letak TL. Takabonerate (wisata-alamku.blogspot.com) Kawasan TL. Takabonerate terletak di laut Flores dengan jarak 79-206 mil sebelah Selatan Benteng, Ibukota Kabupaten Selayar. Kawasan ini merupakan karang atol terbesar ketiga di dunia, setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva, yang memiliki luas sekitar 220.000 hektar. Wow banget kan? Betapa bangganya kita memiliki tempat semenakjubkan ini.  Karang Atol ...

Ibu RT Dua Negara

Ini dia pengalaman pertama saya ke luar negeri. Tanpa paspor ataupun tiket pesawat terbang. Begitu mudahnya untuk keluar dari perbatasan Indonesia di Desa Ajikuning. Hanya tinggal melewati patok 3 yang tingginya mungkin hanya satu sentimeter. Saya pun sampai di Malaysia. Tapi, ko gak ada bedanya? Sebab, disebrang yang tinggal itu juga orang Indonesia. Berikut jurnal perjalanan saya pada hari Selasa, 19 Juni 2012.... Perjalanan mengunjungi Ibu RT 2 Negara ..   Ketua RT 02, Desa Ajikuning, Sebatik Tengah bernama Hana. Ia merupakan seorang perempuan perantauan yang bersal dari Sulawesi . Tepatnya daerah pinrang. Suami Ibu Hana juga berasal dari Sulawesi yakni bone. Sebelum sampai tempat ini, ia pernah merantau di Malaysia, tepatnya di Tawau selama 13 tahun. Ia memilih untuk pergi merantau sebab melihat orang-orang yang pergi merantau semuanya berhasil. “ Mereka pulang berjaya semua. Banyak barang yang dibawa. Begitulah merantau. Ya begini kerjanya. Habis dikampung tidak a...