Selama beberapa minggu terakhir, saya sebagai warga Bekasi mengalami petaka terburuk air PDAM. Jangankan bermimpi bisa minum langsung dari keran seperti di negara-negara maju. Untuk mandi, mencuci muka, menyikat gigi, bahkan cebok saja pakai air PDAM harus dipikirkan dulu, layak atau tidak. Rasanya tidak tega membasuh tubuh dengan air hitam berpasir yang keluar dari keran itu. Apa daya, sumuknya udara Bekasi, ditambah lagi apabila selepas pulang dari kerja di Jakarta, sampai rumah tetap harus mandi membasuh tubuh dengan air keran. Tapi, setiap habis mandi bukan rasa segar yang didapatkan, tapi gatal-gatal sekujur tubuh. Air Bersih atau Kemampuan Membeli Air? Untuk mengatasi petaka ini, warga yang punya uang mencari jalan keluar sendiri. Mereka memasang filter air, beli air gallon, pakai jet pump, menggali sumur sendiri, beli alat tambahan lainnya yang bisa mengurangi dampak air kotor dari PDAM. Masalahnya, tidak semua warga punya uang untuk membeli solusi, sementara air me...
Growing up in a lower-middle-class neighborhood in Jabodetabek, I was often surrounded by weddings held at home. I used to get annoyed by the noise from neighbors hosting weddings, which would last all day long. In my younger years, attending these home weddings felt uncomfortable. But attending weddings in halls wasn’t always perfect either—especially when the number of guests exceeded the venue’s capacity, with limited seating, leading to long lines just to get food. Of course, I wanted a wedding that invited as many people as my Mom wished, as well as my friends, but my budget was limited. It didn’t seem realistic for my parents, who were retired civil servants, to fund my wedding. So, the wedding I envisioned had to come from my own finances, along with whatever help my future husband or his family could offer. Ultimately, I was realistic; the fundamental aspect of my wedding was that it should be held outside my parents' home, ensuring that all guests could sit while eating an...